Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan barang bukti di lokasi. Hanya beberapa meter dari titik awal api, warga menemukan tutup botol air mineral yang menyengat bau bensin. Tak jauh dari sana, terlihat pula jejak kaki orang dewasa yang mengarah ke lokasi kejadian. Temuan ini membuat warga meyakini kebakaran tersebut tidak disebabkan korsleting listrik, melainkan ulah pelaku yang sengaja membakar bangunan.
Topan, penyewa rumah kafe tersebut, mengaku sedang bermain ponsel ketika mencium bau asap dari arah kamar belakang. “Awalnya saya kira korsleting. Tapi saat saya cek meteran listrik di depan, arus listrik normal. Api justru berasal dari kamar paling belakang,” ujarnya kepada awak media di lokasi.
Kecurigaan Topan semakin menguat ketika melihat instalasi listrik di kamar belakang masih menyala. Ia juga menemukan tutup botol berbau bensin di dekat tanaman kangkung, sekitar tiga meter dari titik api. “Jejak kaki orang dewasa juga ada di situ. Barang bukti tutup botol sudah saya serahkan ke polisi,” tambahnya.
Meski api sempat berkobar, kobaran itu padam dengan sendirinya sebelum mobil pemadam kebakaran tiba. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp80 juta. Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya publik terkait kecepatan respons petugas damkar, mengingat lokasi kejadian tidak berada di daerah terpencil.
Kasus ini kini ditangani Polsek Tebing Tinggi, Polres Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Hingga berita ini dipublikasikan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi. Warga sekitar berharap aparat segera mengungkap pelaku dan motif di balik kebakaran tersebut.
Masyarakat khawatir insiden ini dapat menjadi preseden buruk bagi keamanan lingkungan, khususnya bagi pelaku usaha kecil yang rentan menjadi sasaran teror atau persaingan usaha tidak sehat. Mereka menuntut proses hukum yang cepat dan transparan, agar pelaku tidak sempat menghilangkan jejak dan rasa aman warga tetap terjaga.
(Tim)

0 Komentar