![]() |
| Ilustrasi (Net). |
Editor: MJ. Sitorus
Labuhanbatu Utara|GarisPolisi.com — Masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara, mulai kehilangan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum dalam memberantas peredaran narkoba yang kian merajalela. Setelah dua pekan pemberitaan mengenai aktivitas para terduga bandar narkoba, belum ada satu pun pelaku utama yang berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian.
Informasi dari warga menyebutkan, para bandar yang selama ini diketahui beroperasi di wilayah Kualuh Hilir dan Kualuh Leidong, seperti inisial E, Obon, dan IN, masih bebas berkeliaran di kampung masing-masing. Mereka hanya mengubah strategi operasionalnya agar tidak terendus oleh aparat.
Menurut seorang informan terpercaya yang diwawancarai pada Senin (28/7/2025), para bandar kini menugaskan orang-orang baru yang belum dikenal oleh aparat penegak hukum untuk melayani konsumen sabu. “Mereka sudah tahu mereka jadi target, makanya sistem dijalankan oleh orang baru,” ujar sumber tersebut.
Keresahan warga bukan hal baru. Dalam wawancara terpisah, seorang informan lain menyebut bahwa laporan demi laporan tentang keberadaan para bandar sudah disampaikan ke Polsek Kualuh Hilir, Polsek Kualuh Hulu, hingga ke Polres Labuhanbatu, namun semuanya berakhir tanpa tindakan nyata.
“E di Teluk Piai, Obon di Sialang Gatap, IN di Pasar Bilah, AM yang dulu di Tanjung Mangedar sekarang di Tanjungbalai, DS dan TI di Dusun II Tanjung Mangedar, dan Pak Rehan di Tangkahan Horas Sukarame—semua sudah kami laporkan. Tapi tidak satu pun ditangkap,” keluh warga yang meminta namanya dirahasiakan.
Nada kecewa juga disampaikan Zainudin, warga lainnya, melalui pesan Facebook kepada wartawan. Ia menilai polisi hanya fokus menangkap pengguna dan pengedar kecil. “Suruhlah Kapoldasu, Kapolres, dan para Kapolsek jangan cuma bisa tangkap pemakai dan pengedar kecil. Bandar besarnya gak pernah disentuh. Percuma, gak akan bersih Labura ini dari narkoba kalau yang besar-besar dibiarkan bebas,” tulisnya pada Jumat (25/7/2025).
Meski frustrasi, sebagian warga tetap mengapresiasi media yang menyuarakan kegelisahan mereka. JP Pasaribu, warga pesisir lainnya, mengucapkan terima kasih kepada GarisPolisi.com karena telah berani memberitakan persoalan narkoba yang menurutnya sudah sangat meresahkan.
“Narkoba jenis sabu bukan hanya bikin tidak aman kampung kami, tapi juga menghancurkan masa depan anak-anak,” kata JP Pasaribu dengan suara bergetar.
Upaya konfirmasi pun dilakukan oleh wartawan kepada Kapolsek Kualuh Hilir, AKP Syamsul Bahri Dalimunthe, dan Kanit Reskrim IPDA Rudi Harahap, namun tidak mendapat respons hingga berita ini diterbitkan.
Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Labuhanbatu, AKP Iwan Mashuri, yang berhasil dihubungi lewat telepon WhatsApp, menyatakan bahwa pihaknya menghadapi kendala medan dan jarak dalam menindaklanjuti laporan warga. Ia juga menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum melakukan penindakan.
“Kalau cuma satu atau dua bungkus sabu, kami harus pertimbangkan efisiensi. Tapi kalau jumlahnya besar dan infonya valid, tentu kami akan bergerak. Kalau sampai 10 kilogram misalnya, mana mungkin kami tinggal diam,” ujarnya.
Ia mengimbau agar warga aktif berkoordinasi dengan Polsek terdekat dan menyampaikan informasi sejelas mungkin, bahkan jika memungkinkan, menangkap pelaku saat barang bukti terlihat. “Kalau infonya akurat, kami sangat apresiasi. Bahkan informan bisa kami beri hadiah,” tambah Iwan.
AKP Iwan Mashuri baru empat hari menjabat sebagai Kasat Narkoba Polres Labuhanbatu. Sebelumnya, ia pernah menjabat Plt Kapolsek Kualuh Hulu dan juga menjadi Kasat Narkoba pertama di Polres Labuhanbatu Selatan.
Kini, harapan masyarakat pesisir Labura bertumpu pada keseriusan dan kemauan aparat penegak hukum dalam memberantas peredaran narkoba di wilayah mereka. Masyarakat menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji, demi menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika yang semakin merusak tatanan sosial dan keamanan daerah.

0 Komentar