Catatan Kuratorial Pameran Lukisan "Membaca Medan" Merajut Kembali Ingatan Ruang Era Kosmopolitan hingga Kekinian Melalui Lukisan


   Jim Siahaan

Medan  |  Garispolisi.com  --  Kota Medan hari ini sering kali hadir dalam gambaran ruang yang bising secara visual namun agak hening dalam artikulasi gagasan seni rupanya. Generasi perupa di kota ini perlu berselancar mengitari sejarahnya di atas landasan kontemporernya, artinya mengupas yang lama sebagai insan,  yang sekarang. Masuk ke situasi sebuah pertemuan pasar malam, bersenggolan membangun keterikatan lebih ajeg dengan audiens.

Renggangnya keterikatan selama ini bukanlah fenomena instan, melainkan dampak jangka panjang dari berlapisnya peristiwa keretakan patronase kultural masa lalu. Eksodus warga Belanda yang meruntuhkan fondasi kosmopolitanisme Parijs van Sumatera, disusul trauma politik pembersihan seniman Lekra pada dekade 1970an, hingga hijrahnya para seniman Simpassri yang sempat menjadi kutub tandingan, telah meninggalkan kekosongan spasial yang mendalam.

Sejarah seni rupa Medan seperti mengalami amnesia kolektif; Ia kehilangan rahim kultural yang subur di tengah kekosongan patron dan kelangkaan pemikir kontemporer.

Inilah, sekelompok perupa akan kembali hadir di Rumah Budaya Tangga memantik kembali api yang redup melalui pameran lukisan tematik bertajuk "Membaca Medan". Melanjutkan optimisme dari pameran perdana "Bah... ini rupanya", tajuk baru ini menantang para perupa untuk tidak lagi berpaling dari realitas, melainkan menyerap dan merekam atmosfer kota sebagai hulu ledak ide kreatif.

Menjadikan atmosfer lokal sebagai sumber ide adalah sebuah metode penciptaan yang absah sekaligus mendesak. Secara sosiologis, seni rupa tidak pernah lahir dari ruang vakum, melainkan selalu merupakan respons dialektis terhadap lingkungan fisik dan psikososial di sekitarnya (Wolff, 1993). 

Medan dengan segala kompleksitasnya—mulai dari memori arsitektur kolonial yang meranggas, dinamika multikulturalisme jalanan, hingga tegangan urban modern—adalah sebuah teks terbuka yang menunggu untuk dibaca secara visual. 

Proses "membaca" di sini tidak sekadar memindahkan lanskap kota ke atas kanvas atau medium instalasi secara mimetik. Membaca Medan berarti melakukan pembacaan mendalam atas ruang hidup sehari-hari (spatial practice), di mana seniman memosisikan tubuh dan inderanya sebagai radar yang menangkap harapan, dan identitas kota yang terfragmentasi (Lefebvre, 1991). Ketika perupa mulai sensitif terhadap partikel-partikel atmosfer di sekelilingnya, karya yang lahir akan memiliki otentisitas dan daya hidup (ruh) yang kuat. Hubungan seni rupa dengan audiens lokal yang selama ini terputus dapat disambung kembali karena publik melihat cerminan realitas dan memori kolektif mereka sendiri di dalam ruang pameran. 

Seni rupa Medan harus berhenti menjadi menara gading yang berjarak atau sekadar mengikuti tren global. Melalui komitmen pameran yang menerus, "Membaca Medan" menjadi sebuah kerja kebudayaan untuk mereklamasi ruang, menggali kembali akar yang teraling, dan membuktikan bahwa kota ini masih memiliki daya kritis dan estetisnya. 

Medan bukan sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan menjadi subjek, guru, dan inspirasi utama yang menghidupkan kembali ekosistem seni rupa kita.

(Jim. Medan. 1.10.26)

Posting Komentar

0 Komentar