Kabanjahe ( Garispolisi. com) - Di sudut Pasar Kabanjahe, Kabupaten Karo, aroma sayuran segar dan hiruk-pikuk pembeli sudah menjadi bagian dari keseharian Betti Br Ginting. Selama lebih dari 20 tahun, Ia menghabiskan waktunya membuka kios sayur demi membantu perekonomian keluarga. Senin (25/11/2025).
Dalam siaran pers yang diterima wartawan, disebutkan bahwa tekad itu muncul sejak penghasilan suaminya sebagai petani tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga yang terus bertambah seiring anak-anak mereka tumbuh dewasa, awal Ia membuka lapak kecil sebagai pedagang kaki lima. Perlahan namun pasti, berkat ketekunannya, kini Ia memiliki kios sendiri di Pasar Kabanjahe.
"Suami saya bekerja sebagai petani, waktu itu penghasilan tidak mencukupi karena anak-anak semakin besar, butuh tambahan untuk biaya sekolah. Akhirnya saya mencoba jualan sayur, dulunya hanya kaki lima. Lalu sekarang telah memiliki kios sendiri di Pasar Kabanjahe," Ucapnya.
Setiap hari, Betti Br Ginting membuka usahanya dari mulai pukul 7 pagi hingga pukul 15.00 WIB, Ia melayani pembeli yang datang. Seusai pasar tutup, Ia pun kembali bekerja dengan mengambil stok sayuran dari distributor yang akan dipersiakan jualan esok hari. Ritme yang padat tersebut membentuknya menjadi sosok pekerja keras yang tidak pernah berhenti berusaha demi keluarga.
Penghasilannya sebagai pedagang sayur cukup menyokong kebutuhan harian, namun tantangan besar muncul ketika anak-anaknya memasuki masa sekolah dan kuliah secara bersamaan. Kebutuhan biaya pendidikan membuatnya harus mencari cara agar roda ekonomi keluarga tetap berjalan.
"Kalau di pasar itu kan ada Teras BRI. Dari situ saya suka cerita-cerita sama pegawai BRI tentang kesulitan keuangan. Akhirnya saya ditawari pegawai BRI kalau ada pinjaman tanpa agunan. Syaratnya juga mudah, cuma KTP dan KK saja, mungkin untuk BI Checking ya. Setelah itu langsung diproses dan minggu itu pencairan juga," ungkap Betti.
Pinjaman yang ditawarkan adalah produk KECE (Kredit Cepat) dari BRI, fasilitas pembiayaan yang dirancang untuk pelaku ultra mikro. Betti pertama kali memperoleh pinjaman sebesar Rp 5 juta, jumlah yang ia terima secara utuh tanpa potongan apa pun.
"Uangnya saya putar untuk modal usaha juga. Enaknya di BRI ini cicilannya ringan. Terus saya juga bisa nabung setiap hari buat cicil bayar, kadang Rp50 ribu, kadang Rp100 ribu, tergantung jualan saja. Waktu jatuh tempo tinggal mengurangi dari yang sudah ditabung. Jadinya sama sekali tidak memberatkan," terangnya.
Di tengah kesibukannya berjualan sayur, Betti juga mulai melebarkan sayap dengan merintis usaha rumahan. Ia memproduksi berbagai camilan seperti keripik pisang, keripik ubi, hingga kue bawang dari ubi ungu dan kentang. Aktivitas ini ia lakukan pada malam hari setelah pulang dari pasar.
"Saya juga sedang mulai merintis usaha keripik, ada keripik pisang, ubi, terus kue bawang ubi ungu dan kue bawang kentang. Ini masih usaha rumahan kecil, saya mengerjakannya hanya malam hari saja karena siangnya masih jualan di pasar. Harapannya, nanti kalau anak-anak sudah besar, saya bisa fokus ke UMKM ini. Modalnya juga saya dapat dari pinjaman BRI dan beberapa kali kalau BRI ada acara, saya juga dikasih stan untuk berjualan," jelas Betti.
Dalam kesempatan terpisah, Donny Cahyono, Branch Manager BRI BO Kabanjahe mengungkapkan, pembiayaan Ultra Mikro telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Pencapaian ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, yaitu meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan dan pemerataan ekonomi, serta pemberantasan kemiskinan.
"Kuncinya pada pembiayaan dan pendampingan yang tepat, sehingga pelaku usaha bisa berdaya dan naik kelas. Kisah Betti menjadi bukti nyata bahwa pembiayaan ultra mikro dapat menjadi solusi dan pendorong ekonomi masyarakat, khusunya di wilayah Kabanjahe," tuturnya.( Nz)
0 Komentar