Sinergi TPID Menjaga Stabilitas Harga, Inflasi September 2026 Tetap Terkelola

GarisPolisi.com|Pematangsiantar - Sinergi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Upaya tersebut dilakukan secara konsisten melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, dalam siaran pers KPwBI Pematangsiantar, Selasa (6/10/2026), menyampaikan bahwa perkembangan inflasi pada September 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali di wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Pematangsiantar pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara inflasi tahun berjalan atau year-to-date (ytd) tercatat sebesar 2,93 persen. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Kota Pematangsiantar mencapai 3,78 persen.

Di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi September 2026 tercatat sebesar 0,13 persen (mtm), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 3,57 persen (ytd). Secara tahunan, inflasi Kabupaten Labuhanbatu berada pada level 4,04 persen (yoy).

Ahmadi mengatakan, relatif rendahnya inflasi bulanan pada September menunjukkan stabilitas harga di kedua wilayah masih terjaga, meski terdapat dinamika pergerakan harga sejumlah komoditas pangan strategis.

Untuk Kota Pematangsiantar, tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga cabai merah, daging ayam ras dan beras. Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut dipengaruhi penyesuaian pasokan serta meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.

Namun, tekanan inflasi tersebut dapat diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama tomat, cabai rawit dan kangkung.

Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, kenaikan harga cabai merah, cabai hijau dan ikan dencis menjadi komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi September 2026. Kondisi tersebut tertahan oleh penurunan harga cabai rawit, tomat dan bawang merah.

Menurut Ahmadi, KPwBI Pematangsiantar bersama TPID akan terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi, antara lain melalui koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan, pemantauan harga serta ketersediaan pasokan pangan secara berkala, dan pelaksanaan program stabilisasi harga.

Upaya pengendalian juga dilakukan melalui Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai lokasi strategis. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) terus dilakukan untuk mendukung kelancaran distribusi pangan dari daerah surplus menuju daerah defisit. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko gangguan pasokan yang berpotensi mendorong kenaikan harga.

Dari sisi komunikasi, KPwBI Pematangsiantar bersama pemerintah daerah juga terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pola konsumsi yang bijak dan pengelolaan belanja rumah tangga secara cermat.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan harga sekaligus mendukung efektivitas kebijakan pengendalian inflasi.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui penerapan strategi 4K secara konsisten dan berkelanjutan.

Penguatan koordinasi, peningkatan ketahanan pangan, optimalisasi distribusi dan komunikasi yang efektif diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, mendukung ketahanan pangan daerah, memperkuat daya beli masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar.

Sumber: Siaran Pers KPwBI Pematangsiantar.

Posting Komentar

0 Komentar